Malam ini mataku sulit untuk dipejamkan. Aku benar-benar gelisah. Gerakan tidurku tak karuan. Surat bersampul biru dari Abimayu masih saja aku genggam, sesekali aku ulangi membacanya. Entah sudah berapa kali mataku memelototi tulisan itu. Biarpun muak aku dipanggil raki1 oleh Abimanyu yang mengaku dirinya seorang raka2.
Raki Larasati kekasihku,
Satu minggu lagi aku ke Solo. Dan di atas peraduan berhiaskan mawar merah, akan aku hadirkan pelamin temanten untukmu. Kita akan manunggal sesuai amanat Romo. Tersenyumlah Larasati. Aku mencintaimu.
Raka Abimanyu
Surat itu memang singkat, tapi isinya laksana tsunami yang merampas asaku. Perjodohan ini tak kuasa aku tolak. Romo3 memang tidak pernah mengerti tentang aku. Berjuta alasan tak akan mengubah pandangan Romo tentang Abimanyu. Pria berusia empat tahun diatasku itu memang baik dan sederajat dengan keluargaku. Datang dari keturunan priyayi Jogjakarta dan sudah mempunyai jabatan manager director di salah satu perusahaan terkenal dengan ijasah doktor yang dimilikinya. Tapi untuk apa semua itu kalau memang aku tak cinta. Hatiku sudah tertambat pada laki-laki lain. Bukankah cinta itu adalah anugerah, tak peduli kasta dan tahta. Cinta hanya bermuara pada keikhlasan. Asal tahu dan bisa menjaga diri, semuanya beres. Begitulah yang aku yakini saat ini.
“Kamu belum tidur, Ndhuk4?” tiba-tiba suara Biyung5 mengagetkanku, segera aku selipkan surat itu di bawah bantal. Aku takut meresahkan hati Biyung.
“Belum Biyung, mungkin sebentar lagi” sahutku singkat.
“Tidurlah Ndhuk, sudah malam!” sambung Biyung seraya mengusap kepalaku lalu pergi meninggalkanku.
Sosok wanita yang melahirkanku itu memang tipe wanita yang khusus dilahirkan untuk bangsawan keraton seperti Romo. Tahunya hanya sabar, nerima ing pandhum6, dan mentaati suami. Dan entah kenapa sifat itu tidak menurun padaku. Aku tidak mau dibelenggu, disepelekan. Aku tidak ingin seperti tanah liat yang dengan mudah dibentuk oleh Romo.
Biyung tak bisa berbuat apa-apa tentang perjodohan ini. Kembali aku terngiang empat tahun silam ketika aku memutuskan untuk kuliah di Bandung. Semua perkataan Biyung tak ada artinya di hadapan Romo. “Kang Mas7, Diajeng8 ini tidak pernah minta lebih sama Kang Mas, tapi mbok ya tho sekarang turuti apa permintaan Larasati” kata Biyung saat itu. “Larasati itu puteri keraton, tidak sepantasnya dia keluar dari keraton Diajeng. Larasati tetap harus kuliah di Solo!” sahut Romo. “Tapi Kang Mas…” pinta Biyung memelas. “Sampun9 Diajeng. Sampun!! Sekali Larasati kuliah di Solo ya tetap di Solo!!” bentak Romo kasar. Akhirnya akupun kuliah di salah satu universitas ternama di Solo. Gelar sarjana ekonomi yang aku sandang sekarang pun atas pilihan Romo. Cita-citaku untuk jadi salah satu desainer terkenal melayang sudah.
Tak terasa aku menangis, “Aku kangen kamu” Hanya itu kata-kata dari hatiku yang bisa aku ungkap sekarang.
Aku mencoba untuk tidak merasakan ganjalan aneh pagi ini. Biarpun semakin hari luka itu semakin membengkak, tapi aku biarkan saja. Sebenarnya Romo bisa memberi dorongan padaku untuk menggelar jati diri, atau dengan sengaja Romo menjadikan diriku boneka? Yang bebas seenaknya dipermainkan. Kalau sudah bosan, mungkin berakhir di bak sampah.
“Sugeng enjing10 Romo, Biyung!” sapaku seraya mengecup tangan mereka lalu mendorong salah satu kursi di meja makan.
“Iya, selamat pagi anakku sayang!” balas Biyung kemudian.
Meja makan ini sejak 23 tahun silam selalu saja sepi, sedikitpun tak pernah ada obrolan ringan menemaniku makan. Paling-paling hanya kata-kata minta tolong untuk mengambilkan makanan yang ada di dekatku atau kata-kata singkat lainnya.
“Ndhuk, setelah ini temui Romo di ruang baca” pinta Romo seraya mengambil secangkir kopi yang ada di hadapannya.
“Inggih11 Romo” jawabku singkat. Ah, mungkin Romo mau menanyakan isi surat Abimanyu, pikirku. Ingin rasanya aku menolak, tapi aku lagi-lagi tak kuasa. Perintah Romo adalah sebuah titah12 yang tidak boleh dibantah. Seluruh penghuni Hastinapuro ini ada di genggaman Romo. Terkadang aku menyesali nasib yang ada padaku. Kenapa aku harus menjadi anak Romo, bukan anak orang biasa lainnya. Yang bebas berkeliaran kesana kemari tanpa harus dikekang oleh seribu peraturan.
Hari sudah sore ketika Mercedes Benz hitam ini berhenti pada salah satu rumah berdinding hijau muda di perumahan sederhana di Solo. Kuketuk pintu coklat itu setelah aku keluar dari mobil dan merapikan bajuku yang berantakan. Tak beberapa lama, keluar sosok perempuan muda berpakaian kaos oblong.
“Laras??? Ada angin apa elo kemari?” teriak perempuan itu kaget sambil memeriksa tubuhku seakan-akan aku baru saja terkena celaka. Tapi benar juga, batinku sekarang sedang tersiksa.
“Please deh... Jangan sok mendramatisir gitu. Gue lagi suntuk nih” sahutku seraya masuk ke ruang tamu berukuran sekitar 3 x 4 meter itu.
“Gue pengen minggat13, Ven. Gue mau dikawinin” lanjutku.
“Hah??? Emangnya elo pikir mudah apa pergi dari keraton dengan status elo yang sekarang? Kehormatan orang tua elo juga ditaruh mana heh?”
“Pikiran gue buntu. Elo tahu sendirikan kalo gue cinta mati sama Coki!? Biar orang bilang gue ini edan14 gara-gara salah menaruh hati pada cowok yang nggak setaraf sama gue, gue rela. Asal gue bisa bersama Coki, apapun akan gue lakuin”
“Elo emang bener-bener gila! Please, open your heart my sweetie. Apa yang salah pada diri Abimanyu? Dia mencintai elo udah lama. Pengorbanannya hampir nggak terhitung buat ngedapetin hati elo, Laras. Sementara apa yang elo dapat dari Coki? Elo nggak akan bahagia sama cowok oportunis macam dia!”
“Stop! Gue kesini karna gue butuh ketenangan bukan omelan. Okey?”
“Fine, gue ngerti derita elo gadis”
Suasanapun akhirnya berangsur melebur, kami terlibat pembicaraan yang cukup santai. Perempuan yang sebaya denganku itu memang baik. Kepadanyalah aku ceritakan keluh kesahku selama ini. Akupun tidak pernah ingat bagaimana awal mulaku bertemu dengan gadis manis ini. Dia memang bukan keturunan darah biru tapi hatinya melebihi orang dari keturunanku.
Rabu sore ini Abimanyu datang menepati janjinya. Ia mengenakan kemeja warna biru muda berbalut setelan jas hitam berhiaskan dasi bercorak garis-garis putih dan biru tua, sungguh perpaduan warna yang sejuk dan menarik. Rambutnya tersisir rapi dan padat sehingga terlihat jelas lekuk tengkuknya yang jenjang di salah satu bagian tubuhnya yang tegap dan kekar. Memang tak ada yang salah pada diri Abimanyu, perempuan manapun tidak akan menolak kehadirannya. Tapi tidak untuk aku karena aku tidak mencintainya. Dia sekarang terlihat asik ngobrol dengan Romo di pendopo15, entah apa yang dibicarakannya. Aku tidak peduli.
“Ndhuk Larasati, anakku sayang, kemarilah!” perintah Romo ketika menyadari aku sudah lama berdiri di daun pintu.
“Inggih Romo” jawabku mengiyakan lalu berjalan menemui mereka.
“Kamu cantik sekali hari ini Larasati” puji Abimanyu ketika melihatku.
“Terima kasih atas pujiannya” sahutku singkat dengan ekspresi yang datar.
Romo pun pergi meninggalkan kami berdua. Tak lama kemudian, aku mengajak Abimanyu jalan-jalan keliling taman Hastinapuro. Terdengar kasak kusuk dari beberapa punggawa16 keraton yang membicarakan kami.
“Aku mohon, tolong tinggalkan aku” pintaku mengawali pembicaraan.
“Apa maksudmu Raki?” tanya Abimanyu kebingungan.
“Aku tidak mencintaimu, Abimanyu. Kamu tahu itu kan? Karena itu tolong lepaskan aku. Aku mencintai laki-laki lain. Aku mohon mengertilah”
“Tidak Raki Larasati sayang! Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku yakin cinta itu bisa dipupuk setelah kita hidup bersama. Tega sekali kamu berkata seperti itu sementara kurang satu bulan lagi kita naik pelaminan”
“Apa??” tiba-tiba saja kurasakan semacam kibasan kuat menghentak badanku. Aku ingin berteriak tapi tak bisa, aku harus menjaga sikapku. Dadaku sesak dan berkecamuk. Aku tidak menyangka pernikahan itu diadakan secepat ini tanpa persetujuanku. Romo memang benar-benar keterlaluan. Kenapa aku tidak diajak berunding soal ini, Romo anggap apa aku ini. Aku punya perasaan dan keinginan Romo. Tiba-tiba muncul rasa benciku kepada Romo tetapi akhirnya aku tepis juga perasaan itu. Biar bagaimanapun, beliau adalah seorang ayah yang harus aku hormati. Aku pun lari meninggalkan Abimanyu tanpa berkata apa-apa.
“Raki Larasati……..” teriak Abimanyu memanggilku dan aku lagi-lagi tidak peduli dengan ulahnya. Pandangan heran dari beberapa punggawa keraton juga tak aku hiraukan. Hatiku hancur berkeping-keping. Bayangan wajah Coki dan kenanganku ketika bersamanya memenuhi anganku. Tiba-tiba benda-benda di sekelilingku berputar-putar lalu gelap.
Lampu-lampu sudah dinyalakan. Hastinapuro malam ini disulap menjadi indah. Terlihat hiasan dekorasi dan rangkaian bunga-bunga segar dimana-mana. Di salah satu pojok ruangan berdiri megah sebuah panggung dengan gaya tradisional Jawa yang artistik. Di tengah-tengahnya terdapat beberapa singgasana berukiran gaya Jawa tradisional yang belum pernah aku lihat selama ini. Sementara itu, semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada gurau kecil, bisik-bisik, atau malah ada yang teriak-teriak kebingungan karena pekerjaannya belum selesai. Polesan warna-warni dan senyum bahagia menghiasi wajah semua orang malam ini. Kamarku pun juga berubah indah. Bau harum bunga cendana menusuk hidungku. Terdapat berpuluh-puluh mawar merah menghiasi tempat tidurku. Dindingnya pun sekarang berbalut hiasan kain dengan warna merah berselingkan kain batik17 yang lagi-lagi bergaya tradisional Jawa.
Aku duduk terpaku di depan cermin rias. Hari ini aku akan mengakhiri masa lajangku, aku akan segera menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai. Tidak, aku tidak akan menikah dengan Abimanyu. Aku ingin hidup bersama dengan kekasihku.
Sinar matahari pagi yang cerah menerobos lewat jendela kamar, menjamah tubuhku. Pagi ini aku benar-benar capek dengan seabrek rutinitasku tadi malam. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk dari luar.
"Good Morning, Miss. How are you? This is your order last night" sapa laki-laki kulit putih berseragam bell boy itu sambil menyerahkan koran Indonesian's Post yang aku pesan kemarin malam.
"I'm fine, Thank you very much" jawabku. Tak lupa aku merogoh saku piyamaku dan menyerahkan beberapa lembar money tips kepadanya.
Entah aku harus tertawa atau bersedih ketika melihat tulisan di halaman pertama koran itu. Disitu jelas tertulis "Hastinapuro Geger: Gusti Raden Ayu Larasati Dwi Kusumawardhani Minggat Pada Malam Pernikahannya".
Oh, maafkan puterimu ini Romo.
raka2 : salah satu panggilan sayang kepada laki-laki Jawa
romo3 : panggilan untuk Ayah di suku Jawa
ndhuk4 : panggilan untuk anak perempuan suku jawa
biyung5 : panggilan untuk ibu di kalangan suku jawa
nerima ing pandhum6 : menerima apa adanya (bhs. Jawa)
kang mas7 : salah satu panggilan kepada suami di suku Jawa
diajeng8 : salah satu panggilan kepada istri di suku Jawa
sampun9 : sudah (bhs. Jawa)
sugeng enjing10 : selamat pagi (bhs. Jawa)
inggih11 : iya (bhs. Jawa)
titah12 : perintah dari seorang raja
minggat13 : melarikan diri dari rumah (bhs. Jawa)
edan14 : gila (bhs. Jawa)
pendopo15 : teras, pelataran rumah untuk rumah joglo sesuai adat Jawa
punggawa16 : prajurit keraton Jawa
kain batik17 : kain bergambar dengan menerapkan bahan malam, asli dari suku Jawa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar